• Home »
  • Aktualita »
  • Pengaduan Bullying Dianggap Becanda Bikin Korban Putus Asa dan Bunuh Diri, Fenomenanya Diangkat di Film Ini

Pengaduan Bullying Dianggap Becanda Bikin Korban Putus Asa dan Bunuh Diri, Fenomenanya Diangkat di Film Ini

Young Lex, rapper yang lagi hits di Tanah Air ini turut hadir dalam kampanye Stop Bullying di SMKN 1 Surabaya.

Penakita | SURABAYA – Maraknya kasus bullying di masyarakat lantaran pelakunya tidak menyadari bahwa tindakannya sudah membuat rasa sakit hati pada orang lain. Yang juga memprihatinkan, kasus bullying ini terjadi di semua lapisan masyarakat, baik antaranak-anak, antarmurid di sekolah, antara guru-murid, dan bahkan orangtua-anak.

Ironisnya perilaku bullying ini kerap dinilai sebagai sebuah candaan. Padahal tindakan ‘penindasan’ yang agresif oleh sekelompok atau seseorang ini bisa menimbulkan rasa tertekan pada korbannya.

Belakangan bullying tidak lagi hanya terjadi dalam lingkup sosual di dunia nyata. Tren bullying ini juga makin marak merambah ke media sosial (medsos). “Bullying melalui medsos ini pun sudah menimbulkan korban jiwa,” tegas Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) saat hadir di SMK Negeri 1 Surabaya, Kamis (2/8/2018).

Menurut Retno, pihaknya pernah pernah menangani anak usia 13 tahun yang bunuh diri setelah di-bully. Dan dari jejak digitalnya diperoleh informasi bahwa anak tersebut selalu diolok-olok karena orang tuanya jualan bubur.

“Sampai orang lain lupa nama sebenarnya anak itu, karena lebih sering dipanggil anak penjual bubur,” ungkapnya.

Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (berdiri baju kotak-kotak) sat memapar tentang bahaya bullying di hadapan siswa SMKN 1 Surabaya.

Anak si penjual bubur ini, lanjut Retno, sebetulnya sudah melaporkan olok-olok itu ke guru, tetapi respons yang diperoleh justru menganggap hal itu hanya canda. Jawaban yang sama diperoleh pula oleh anak itu ketika mengadu ke teman-teman dekatnya.

Dan ketika anak itu mengadu ke orangtua, orangtua malah minta menerima saja olok-olok itu karena mereka memang sudah hidup susah. “Jadi anak ini mengira tidak ada jawaban lain selain bunuh diri,” urainya.

Tingginya kasus bullying di masyarakat ini pula yang membuat KPAI sepakat untuk mendukung kampanye #StopBullying #JanganDianggapRemeh #JarimuMembunuh yang dilakukan Surya Films dan Anami Films lewat film berjudul Aib #Cyberbully.

“Yang tidak dilaporkan itu lebih banyak dibanding yang masuk ke kami. Orang yang berani melaporkan biasanya sudah memiliki kekuatan lain,” tegas Retno.

Retno berharap film Aib #Cyberbully bisa mengingatkan kepada anak-anak agar tidak melakukan bullying. “Apalagi akibatnya cukup fatal. Bisa berakibat kematian pada si korban,” pungkasnya.

Film Aib #Cyberbully yang tayang serentak pada Kamis (2/8/2018) ini ceritanya berawal dari sebuah postingan di sosial media hingga menimbulkan kekacauan dan berujung maut. Film yang proses produksinya berlangsung sekitar 1,5 bulan ini didukung oleh rapper Indonesia, Young Lex yang mengisi  original sound track (OST) berjudul ‘Jangan Dianggap Remeh’.

Sedang para pemain film Aib #Cyberbully antara lain, Yuniza Icha sebagai Sarah, Ade Ayu (Bianca), Wendy Wilson (Donna), Shoumaya Tazkiyyah (Cista), Damita Argobie (Angel), Harris Illano (Antoni), Michael Lie (Cupi) dan Baron Wilschut (Bondan). din