banner 468x60

Pengobral Data Jadi Sasaran Empuk Penjahat Cyber

364 views
iklan
Ilustrasi

Ilustrasi

Penakita | JAKARTA – Kejahatan di dunia maya belakangan terus terjadi dengan beragam cara untuk menjaring korbannya. Dan terjadinya kejahatan tersebut, menurut Kalamullah Ramli, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kementerian Komunikasi dan Informatika, lantaran masyarakat Indonesia terlalu mudah percaya.

Sifat orang Indonesia yang satu ini jadi salah satu faktor yang mendukung penyebaran tindak kejahatan siber (cyber crime). “Menurut saya kita punya budaya yang terlalu permisif terhadap data pribadi, contohnya di Facebook banyak data pribadi kita ditaruh begitu saja,” ujar Kalamullah Ramli dalam Seminar Cyber Security Codemicon di Jakarta, Rabu (13/3/2013).

Padahal, lanjut Ramli, data-data pribadi semacam alamat dan nomer telepon rentan disalahgunakan sebagai sarana melancarkan serangan cyber atau tindakan tidak mengenakkan lainnya. “Sebagai contoh, akhir-akhir ini banyak spam yang sudah sampai mencantumkan nama penerimanya,” katanya.

Menurut dia, kebiasaan orang Indonesia dalam hal yang satu ini berbeda dengan masyarakat di luar negeri, khususnya negara-negara barat yang memperlakukan informasi pribadi sebagai sesuatu yang privat, tidak untuk disebarluaskan.

“Di sini, kita cenderung lebih mudah memberikan info pribadi, seperti fotokopi KTP yang dengan gampang kita berikan ke mana-mana. Begitupun bila bertemu kenalan baru, yang belum tentu berniat baik,” imbuh Ramli. Akibat lainnya dari sifat mudah percaya, tutur Ramli, orang Indonesia rentan dimanfaatkan pelaku kejahatan cyber untuk menerapkan social engineering.

Istilah yang satu ini mengacu pada tindak manipulasi subyek (manusia) menggunakan kepercayaan, simpati, dan lain sebagainya sehingga subyek yang bersangkutan mau melakukan tindakan tertentu atau mengekspos data pribadi.

Mantan Kepala Keamanan Cyber Gedung Putih Howard Schmidt mengungkapkan bahwa hal semacam itu sering terjadi di negeri Paman Sam. “Misalnya ketika bencana badai Katrina beberapa waktu yang lalu, banyak pelaku penipuan phising yang meminta sumbangan atas nama korban bencana. Mereka ini memanfaatkan solidaritas dan rasa ingin menolong dari masyarakat,” ungkapnya. kps/dde

author