• Home »
  • Aktualita »
  • Pernikahan Anak Masih Marak, Kalau Tahu Dampak Buruknya Seperti Ini Yakin Masih Mau Nikah di Usia Anak-Anak?

Pernikahan Anak Masih Marak, Kalau Tahu Dampak Buruknya Seperti Ini Yakin Masih Mau Nikah di Usia Anak-Anak?

Ratusan anak dari 34 provinsi se-Indonesia kumpul di Forum Anak Nasional di Hotel Singgasana Surabaya.

Penakita | SURABAYA – Pernikahan dini atau perkawinan di kalangan anak-anak menjadi perhatian serius Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sebab, pernikahan dini ini membawa banyak dampak negatif, tidak hanya bagi masa depan anak tetapi juga bangsa Indonesia.

Karena itu pula Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak selalu melakukan pendekatan seluruh kabupaten/kota di seluruh Tanah Air agar menekan angka perkawinan anak-anak. “Kami juga gencar melakukan advokasi pada keluarga tentang parenting. Semua pihak yang terkait dengan perkawinan anak ini harus diedukasi. Dan semua dalam proses,” tegas Lenny Rosalin, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kamis (19/7/2018) malam.

Ditemui sebelum pembukaan Forum Anak Nasional di Hotel Singgasana, Lenny menegaskan jika tidak ada kerja sama dengan berbagai pihak maka hasil tidak maksimal. “Bekerja untuk anak harus terintegrasi, holistik dalam jangka panjang,” tuturnya.

Lenny lalu memapar dampak buruk pernikahan dini. “Kalau anak kawin, bayangkan usia 15 tahun mosok terus 16 tahun punya anak? Masih anak-anak punya anak risiko buat ibunya juga anaknya!” tegasnya.

Dari sisi kesehatan, lanjut Lenny, pernikahan anak-anak ini memicu tingginya angka kematian ibu maupun kematian bayi. Sedang dari sisi pendidikan, pernikahan anak pun menyebabkan tingginya angka drop out.

“Kalau dia kawin berapa orang yang melanjutkan sekolahnya? Sebagian besar drop out. Padahal pemerintah ingin wajib belajar sukses,” sergahnya.

Menurut Lenny, ketika anak-anak ini menikah otomatis harus menghidupi keluarganya. “Muncul pekerja anak. Tapi pekerjaan apa yang bisa dilakukan anak 15 tahun? Lulus SMP juga nggak,” celetuknya.

Efek buruk berikutnya adalah pemberian upah rendah karena ketrampilan yang dimiliki juga minim. “Berikutnya yang terjadi adalah daya beli jadi rendah,” tandas Lenny.

Lenny yang juga menjadi Ketua Program Kabupaten/Kota Menuju Indonesia Layak Anak 2030 ini mengingatkan pula bahwa Indeks Pembangunan Manusia sangat tergantung pada kondisi kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. “Kalau perkawinan anak tinggi pasti IPM rendah,” imbuhnya.

Untuk itu, Lenny berharap di tiap daerah ada upaya konseling buat orangtua yang anaknya mau menikah sehingga tidak sampai terjadi pernikahan anak-anak. Mekanisme dari KUA pun harus jalan, pengadilan agama juga peduli, tidak mudah memberi dispensasi (pada pernikahan anak-anak). Dengan demikian perkawinan anak bisa dicegah,” harapnya.

Forum Anak Nasional yang rutin digelar tiap tahun ini diikuti oleh 516 anak-anak perwakilan kabupaten/kota dari 34 provinsi seluruh Indonesia. kegiatan yang sekaligus memperingati Hari Anak Nasional ini berlangsung selama empat hari (19-22/7/2018). dit