banner 468x60

Perubahan Paradigma Guru Lebih Prioritas Dibanding Kurikulum

443 views
iklan
Ilustrasi

Ilustrasi

Penakita | JAKARTA – Pelaksanaan Kurikulum 2013 yang disusun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tampaknya bakal menemui banyak hambatan. Salah satu ganjalan itu datang Komunitas Katolik dan Protestan Peduli Pendidikan Indonesia (K2P3I).

Menurut Romo Mardiatmadja, K2P3I pada dasarnya sangat menghargai pemerintah memajukan pendidikan dengan melakukan perubahan kurikulum. Namun masih ada beberapa persoalan yang seharusnya disikapi pemerintah secara bijak.

Pasalnya, dalam proses pembuatan kurikulum 2013 ini tanpa perencanaan matang dan tidak melewati studi evaluasi terhadap efektivitas atau kegagalan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). “Merubah kurikulum perlu didahului penelitian dan studi komprehensif, bukan asumsi dan opini dari segelintir orang yang berkuasa,” tegas Mardiatmadja kepada wartawan di Kantor KWI, Jakarta Pusat, Senin (8/4/2013).

K2P3I mendapatkan fakta di lapangan, bahwa guru belum mengerti dan memahami kurikulum 2013, sementara waktu perencanaan implementasi juga sangat pendek. Pemerintah harus ingat hal ini tak lepas dari rendahnya mutu guru.

“Kami memandang sangat tidak realistis melaksanakan kurikulum baru yang isinya berubah total dari kurikulum KTSP hanya dalam waktu dua bulan saja,” ungkapnya.

Dampak lainnya, pelaksanaan kurikulum ini akan menjadikan peserta didik sebagai korban kebijakan pemerintah yang justru tidak memahami esensi bahwa pendidikan itu adalah proses menjadi manusia cerdas, rasional dan dewasa. Lebih jauh, implementasi kurikulum dengan adanya kebijakan menghapus beberapa mata pelajaran jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK, dapat mengakibatkan para guru kehilangan pekerjaan, kesempatan berkarir, dan kehilangan tunjangan profesi.

Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini menegaskan pula, sangat tidak masuk akal seorang guru harus mengajar mata pelajaran yang bukan bidang keahliannya, dan anak didik menjadi korban. Meski pemerintah menjamin guru tak kehilangan pekerjaan, hal tersebut menyederhanakan persoalan.

“Saat ini yang sebetulnya dibutuhkan, perubahan paradigma guru sebagai teman, rekan, partner dalam belajar. Bukan justru sebagai pawang atau mentor. Makanya perubahan paradigma guru lebih prioritas dibanding perubahan kurikulum,” pungkasnya. dde

author