banner 468x60

Polisi AS Gunakan Jejaring Sosial untuk Penyelidikan

408 views
iklan

social_network_crimes-300x224Penakita | AMERIKA – Di saat Facebook, Twitter jejaring sosial yang lain jadi sarana bergaul anak-anak muda di Indonesia, dan sifatnya sering dijadikan hiburan, di Amerika jejaring sosial sudah digunakan dalam lingkup yuridiksi hukum. Dalam hal ini digunakan untuk menyelidiki kasus terorisme, salah satunya kasus bom marathon di Boston.

Kebijakan untuk membuka kerjasama dengan perusahaan jejaring sosial seperti dan Google ini dilakukan oleh International Association of Police Chiefs dalam menelusuri kasus peledakan di Boston.  Beberaoa waktu yang lalu, perwakilan perusahaan sosial media ini dikumpulkan untuk memberi informasi berharga dalam kasus yang mengguncang Amerika pada 15 April 2013 lalu ini.

Pihak keamanan setempat percaya, dengan mengumpulkan beberapa bukti di jejaring sosial dan perangkat Apple iPhone dua tersangka Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan Tsarnaev, polisi dapat menyelidiki motif dan kemungkinan jaringan teroris di belakang adik kakak ini.

“Ini bukan hanya Verizon dan perusahaan operator seluler, tapi ada Twitter dan segala macam layanan untuk metode berkomunikasi,” kata Peter Modafferi, Chairman Police Investigative Operations Committee, seperti dikutip dari Bloomberg.

Namun, tak semua orang setuju dengan cara polisi dengan memanfaatkan perusahaan jejaring sosial untuk pengungkapan kasus. Hal ini disampaikan oleh kelompok pendukung privasi dan perusahaan internet.

“Kami tidak ingin dipaksa untuk turut membongkar atau mengubah model bisnis kami karena undang-undang baru atau permintaan non-yudisial,” Josh Mandelsohn, Managing Director perusahaan pemodal ventura Haterry.

Bukan kali pertama, hal yang sama ternyata juga sering dilakukan otoritas keamanan Amerika. Antara Juli sampai Desember 2012, Google menerima 8.438 permintaan data sedangkan Twitter 815 permintaan data.

Microsoft menerima 11.073 permintaan data dari pemerintah AS sepanjang tahun 2012, sementara Skype menerima 1.154 permintaan. Facebook tidak mempublikasikan informasi permintaan data dari penegak hukum, begitu juga dengan Apple. adi

author