banner 468x60

Pria Ini Lahirkan Juara dari ‘Kotak Amal’

417 views
iklan
Raden Ridwan bersama anak didiknya

Raden Ridwan bersama anak didiknya

Penakita | JAKARTA – Sekilas tak ada yang istimewa pada sosok pria ini. Namun, sebuah media massa nasional menganugerahi penghargaan spesial.

Lelaki gempal bernama Raden Ridwan Hasan Saputra ini dinobatkan sebagai salah satu peraih anugerah Tokoh Perubahan 2013. “Saya bingung kenapa saya dipilih,” cetusnya tentang penghargaan yang dia terima pada 21 April 2014 lalu.

Ridwan yang menyelesaikan studi di Pascasarjana Teknologi Pertanian IPB tahun 2001 ini merasa tak pernah berbuat hal istimewa. Ridwan adalah pengajar Matematika di lembaga les yang dia bangun pada 2001, Klinik Pendidikan MIPA (KPM), di Bogor, Jawa Barat.

Pada awalnya, KPM hanya punya dua murid usia sekolah dasar. Dia sulap rumah tipe 21 miliknya menjadi tempat belajar bagi para siswa KPM. Ridwan mengaku saat itu tak berkecil hati. Dengan telaten dia bagikan ilmu yang dia punya kepada para siswa.

Dua tahun berlalu. Ridwan pun mulai membuat terobosan istimewa. Dia hapus patokan tarif untuk siswa. Sebagai ganti, dia sediakan sebuah keropak untuk menampung uang dari siswa. Nominalnya? Seikhlasnya.

Keropak adalah semacam kotak amal. Dari foto yang diperlihatkan dalam penghargaan itu, kotak tersebut tampak berbahan kardus biasa. Agar rapi, sampul kertas coklat melapisi kotak itu.

Isi dari keropak dipakai Ridwan untuk menutup biaya operasional lembaga les tersebut. Bila masih ada lebih, barulah dia pakai untuk kepentingan lain. Dia berkeyakinan, niat baik memang tak selalu mudah dijalani. “(Namun) kesibukan ini seperti hobi yang dikerjakan dengan senang hati.”

Berlaga di Olimpiade Matematika
Hari berlalu, tahun pun berganti. Ketelatenannya mulai menampakkan hasil. Pada medio 2007, ia berhasil membawa empat anak didiknya bertanding dalam Olimpiade Matematika tingkat SD di India. Di sana, rombongan kecil Ridwan ini menyabet tiga medali emas, satu perak, dan satu perunggu.

Kabar baik itu menyebar dari mulut ke mulut warga di sekitar rumahnya. Orang yang awalnya menggunjing kini berbalik memujinya. Banyak orangtua yang kemudian tertarik menitipkan anak mereka mengikuti les di KPM.

Jumlah murid Ridwan terus bertambah. Namun, sistem pembayaran di lembaga lesnya tetap tak berubah. Keropak dan seikhlasnya.

Kini, 2014, KPM sudah punya cabang di enam kota. Selain di Bogor, KPM juga ada di Surabaya, Solo, Depok, Bekasi, dan Semarang. Jumlah muridnya 2.500 orang, dari tingkat SD dan SMP.

Dari jumlah siswa itu, 1.100 anak masuk kategori kelas khusus. Bila dulu Ridwan mengajar sendirian bak hobi, sekarang Ridwan punya 25 karyawan dan 100-an staf pengajar. kompas.com/dede

author