banner 468x60

Prodi Sastra Indonesia Unair Masih Kosong 50 Kursi

430 views
iklan

unair_kecilPenakita | SURABAYA – Dari 508 kursi kosong di Universitas Airlangga (Unair) yang tersisa lantaran tidak diisi oleh calon mahasiswa (cama) saat daftar ulang hingga 30 Juli 2013, terbanyak berasal dari Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia. Dari pagu 150, ternyata masih kosong 50 kursi.

Posisi kedua yang paling banyak tidak diisi adalah Prodi Ilmu Sejarah dan Budidaya Perairan. Dua prodi ini masing-masing menyisakan 40 kursi. Sedang Prodi Pendidilkan Dokter yang selama ini jadi andalan Unair malah masih ada 10 kursi kosong.

Begitu juga untuk Pendidikan Bidan, Pendidikan Dokter Gigi, Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional masih ada masing-masing 10 kursi.

“Bisa jadi karena bukan pilihan pertama, maka siswa itu tidak melanjutkan daftar ulang, dan berusaha mencari peluang di perguruan tinggi lain sesuai yang diminatinya. Dan begitu diterima, maka yang di sini (Unair) ditinggalkan,” papar Bagus Ani Putra, Kepala Pusat Informasi dan Humas Unair.

Untuk mengisi kekosongan tersebut sivitas akademika Unair memutuskan untuk membuka kesempatan seleksi di jalur mandiri babak kedua. Bagus menjamin tak ada permainan dalam proses seleksi kedua jalur mandiri ini.

“Kami tetap menggunakan passing grade dan rata-rata kelompok, tidak ada parameter lain,” pungkasnya. ari

Kuota Bangku Kosong Unair di Jalur Mandiri Gelombang II

Pendidikan Bidan: 10
Pendidikan Dokter: 10.
Pendidikan Dokter Gigi: 10
Ilmu Hukum: 10
Ekonomi Islam: 10
Sosiologi: 10
Ilmu Komunikasi: 10
Hub Internasional: 10
Administrasi Negara: 10
Fisika: 10
Kimia: 10
Biologi: 10
Ilmu dan Teknik Lingkungan: 10
Sistem Informasi: 10
Statistika: 10
Sastra Jepang: 10
Ilmu Keperawatan: 10
Manajemen: 13
Matematika: 15
Tekno Biomedik: 15
Kesehatan Masyarakat 15
Pendidikan Apoteker: 15
Psikologi: 20
Akuntansi: 20
Ekonomi Pembangunan: 20
Gizi : 20
Antropologi: 20
Ilmu Informasi Perpustakaan: 20
Sastra Inggris : 20
Pend Dokter Hewan: 25
Ilmu Sejarah: 40
Budidaya Perairan: 40
Sastra Indonesia: 50

author