banner 468x60

PT Biofarma Produksi Massal Alat Pendeteksi Diabet

445 views
iklan
Prof Dr Aulanniam drh DES

Prof Dr Aulanniam drh DES

Penakita | MALANG – Kendati sudah diekspor ke negara lain, Kit Diagnostik GAD 65 ternyata belum diproduksi besar-besaran. Alat pendeteksi penyakit diabet ini masih diproduksi di Laboratorium Biosains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Brawijaya (UB), Malang dalam skala produksi kecil.
|
Pembeli alat hasil kreasi empat orang peneliti dari UB ini pun masih terbatas karena masih dilabeli Research Only sehingga tak bisa dijual bebas di pasaran. Prof Dr Aulanniam drh DES, sang inisiator alat yang bentuknya mirip tester kehamilan ini mengatakan lab di UB tersebut hanya mampu memproduksi sebanya 400 buah tiap bulan, menggunakan mesin produksi asal Jerman sementara waktu ini.

“Rencananya alat ini akan diproduksi massal oleh PT Biofarma, tetapi tak bisa segera karena ada beberapa prosedur yang harus dilalui,” paparnya.

Prosedur itu meliputi penyiapan tempat, dan alat produksi lebih dulu. Setelah itu perusahaan di bidang obat-obatan ini juga harus mendapatkan sertifikasi layak produksi oleh badan kesehatan dunia, WHO, sebelum bisa memproduksi KIT Diagnostik GAD 65 secara besar-besaran. Proses seperti ini diperkirakan memakan waktu lebih dari satu tahun.

Sebagaimana diberitakan, alat yang diberi nama Kit Diagnostik (produk rapid test autoimmune) GAD 65 ini membuat Prof Aulanniam dan kawan-kawannya mendapat banyak apresiasi dari masyarakat dan pemerintah. Salah satunya adalah masuk ke dalam 16 karya inovator unggulan Indonesia versi Kementerian Riset dan Teknologi.

Empat peneliti ini pertengahan Agustus 2014 lalu dapat penghargaan langsung dari Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Gusti Muhammad Hatta. “Ini bukan saya yang melakukan sendiri. Namun merupakan kerja tim laboratorium biosains, FMIPA, kedokteran hewan, dan Universitas Brawijaya sendiri,” ungkap Aulanniam.

Yang lebih membanggakan, Kit Diagnostik GAD 65 ini sudah dipesan dan dimanfaatkan di banyak negara. “Yang menggunakannya tidak hanya para dokter di Malang. Dokter-dokter dari Jakarta, Surabaya sudah menggunakan, bahkan alat ini sudah sampai Madagaskar,” cetus Aulanniam. sum

author