banner 468x60

Punya Akun Media Sosial dan Ingin Banyak Follower? Simak Strategi Berikut Ini

iklan

penakita.com | MAGELANG – Dunia maya tidak hanya menjadikan masyarakat, termasuk anak dan remaja sebagai konsumen, namun juga sebagai pencipta informasi layaknya konten kreator.

Berdasarkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) terdapat 143,26 juta pengguna internet aktif di Indonesia atau 51,8 persen dari total populasi penduduk Indonesia.

Penetrasi terbesar internet berusia 13-18 tahun, atau disebut Gen-Z, yakni sebesar 75,50 persen. Apalagi, saat ini profesi sebagai konten kreator, seperti Youtuber dan selebgram tengah digandrungi oleh kaum milenial.

Dari fenomena tersebut, internet dan media sosial bisa menjadi gerbang masuknya anak sebagai korban eksploitasi seksual. Anak juga bisa menjadi sasaran cyberbullying, radikalisme, incaran para predator pedofil, hingga pengaruh konten yang tidak pantas.

Anak-anak perlu dibekali sikap bijak dalam memanfaatkan media sosial. “Maka dari itu, kami sangat mendukung pelibatan seluruh lapisan, baik media, komunitas, masyarakat, dan pemerintah untuk mewujudkan pemenuhan hak dan perlindungan bagi perempuan dan anak di Indonesia,” kata Indra Gunawan, Deputi Bidang Partisipasi Media Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada kegiatan Festival Media Komunitas 2019 di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Perwakilan dari Twitter Indonesia, Agung Yudha mengatakan bahwa dalam mengelola akun media sosial pribadi, selain diberikan pendampingan, remaja perlu diberikan pemahaman agar mereka menjaga akun tersebut layaknya ruang bermain mereka.

“Masing-masing wadah media sosial punya aturan dan persyaratannya sendiri. Nah, ketika kita ingin membuat sebuah aku media sosial apa kita pernah membaca secara detail aturannya?” cetusnya.

Agung meyakini, mayoritas pengguna media sosial langsung klik ‘setuju’. Padahal, ini sangat bermanfaat bagi keamanan dan privasi akun kita. “Hal ini sama seperti menjaga tempat bermain kita. Misalnya, dalam sebuah kolam bola kita tidak diperbolehkan menggunakan sepatu karena demi keamanan dan kenyamanan kita,” tuturnya.

Agung juga memberikan tips untuk membuat konten positif dan edukatif. Menurutnya, konten video yang memberikan tips cara membuat sesuatu atau how to, seperti memasak sangat menarik dan edukatif.

Hal tersebut bisa ditiru formula atau tekniknya. Selanjutnya, konten dapat digali dengan humor keseharian, serta dikaitkan dengan momen atau hal yang sedang ramai dibicarakan oleh banyak orang.

Selain Agung Yudha, dalam sesi dialog ‘Beradu Konten secara Kreatif di Sosial Media’, Bripka Herman Hadi Basuki dari Polres Purworejo juga ikut berbagi pengalaman menjadi konten kreator secara otodidak.

“Awal saya membuat konten video adalah untuk mensosialisasikan program kepolisian,” begitu ungkap pria yang akrab disapa Pak Babin yang juga pemilik akun Youtube Polisi Motret ini.

Namun, diakui Pak Babin, yang tertarik untuk menonton sangatlah sedikit. “Ketika saya iseng membuat konten bersama anak-anak dengan gaya yang santai dan humoris, dalam satu malam sudah dilihat banyak orang hingga mencapai satu juta orang. Padahal, hanya dengan menggunakan kamera handphone. Maka dari itu, saya terus termotivasi untuk menyampaikan nilai-nilai positif dengan gaya yang natural dan humoris,” paparnya.

Pak Babin juga berpesan kepada para milenial agar terus belajar dan kreatif dalam membuat konten, maka followers akan mengikuti. “Walaupun saya tidak tahu banyak teknik pengambilan gambar dan edit video, namun saya secara otodidak terus belajar dan akhirnya bisa,” ujarnya.

Dia menambahkan,”Percuma jika hanya punya alat canggih, namun tidak memiliki ide konten yang kreatif. Ayo adik-adik jadi konten kreator yang kreatif dan edukatif. Belilah followers dengan kreativitasmu!”

Festival Media Komunitas 2019 diselenggarakan oleh Kemen PPPA bekerjasama dengan Perkumpulan Masyarakat Peduli Media (MPM) Yogyakarta.

Kegiatan ini juga melibatkan Karang Taruna Desa Borobudur, komunitas konten kreator, komunitas Blogger, komunitas Vlogger, dan Jaringan Radio Komunitas Jawa Tengah. wid

author