banner 468x60

Radio Picture Bikin RRI Surabaya ‘Berwarna’

448 views
iklan
Rohanudin (kiri), penggagas Radio Picture RRI Surabaya, bersama Zulhaqqi Hafiz (Ketua Dewan Pengawas RRI), dan Dirut RRI, Niken Widiastuti saat memeragakan teknologi baru melalui telepon seluler.

Rohanudin (kiri), penggagas Radio Picture RRI Surabaya, bersama Zulhaqqi Hafiz (Ketua Dewan Pengawas RRI), dan Dirut RRI, Niken Widiastuti saat memeragakan teknologi baru melalui telepon seluler.

Penakita | SURABAYA – Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Surabaya masuk era baru. Inovasi yang dilakukan ‘radio pemerintah’ Surabaya itu bahkan jauh lebih maju dibanding RRI lain di Indonesia.

Masyarakat kini tak hanya bisa menikmati suara penyiarnya. Sejak Kamis (21/3),RRI Surabaya jadi lebih ‘berwarna’, lantaran masyarakat juga bisa menyaksikan sosok penyiarnya.

Lompatan besar di bidang teknologi itu bermula dari gagasan M Rohanudin, Kepala RRI periode 2012-2013. Pria yang kini dipercaya jadi Direktur Teknik dan Media Baru (TMB) RRI itu membuat inovasi lewat program yang diberi label Radio Picture, sajian yang menguatkan unsur radio dan sentuhan visual.

“Awalnya adalah studio terintegrasi, yang merubah budaya angkasawan sehingga seluruh seksi kini bekerja secara tim. Sekarang sekat lebur, yang ada adalah kerja tim. Dan RRI Surabaya bisa jadi acuan kemajuan tersebut, RRI Surabaya jadi pilot project RRI di masa depan,” kata Dirut LPP RRI Dra Rosarita Niken Widiastuti MSi saat meresmikan Radio Picture, Restorasi Piringan Hitam, Studio Channel Lima, dan Studio Programma 2 RRI Surabaya, Kamis (21/3).

Efek lain dari perubahan ini, RRI Surabaya tak hanya bisa dinikmati masyarakat Surabaya atau di seluruh wilayah Indonesia. “Karena menggunakan teknologi internet, maka siarannya bisa sampai ke luar negeri dan bisa dinikmati lewat telepon seluler,” papar Niken.

Studio Channel 5 dan Radio Picture memang belum ada di stasiun RRI lainnya, dan bahkan mungkin di stasiun radio komersial sekalipun. ”Sesuatu yang luar biasa tidak bisa ditempuh dengan cara-cara yang biasa,” tegas Rohanudin. ari

author