Sekolah di Kota Ini Masih Pakai Software Bajakan

microsoft_logoPenakita | TEGAL – Ratusan lembaga pendidikan di Kota Tegal, Jawa Tengah ternyata diketahui masih menggunakan software bajakan. Tindakan yang dilakukan 90 persen atau sekitar 217 sekolah di tingkat SD/MI hingga SMA/MA/SMK ini tentu merupakan contoh buruk bagi para anak didiknya.

Untungnya, Ikmal Jaya, Wali kota Tegal bertekad menghapus kesan buruk dunia pendidikan di wilayahnya itu. Ikmal yakin masyarakat, khususnya lembaga pendidikan di Kota Tegal tidak ada lagi yang pakai software ilegal setelah didirikannya Microsoft Authorized Education Reseller dan Certiport Authorized Testing Center hasil kerjasama antara SMK YPT dengan PT Microsoft Indonesia.

“Setelah adanya kerjasama antara SMK YPT dengan PT Microsoft Indonesia, maka dunia pendidikan di Kota Tegal harus mulai menggunakan software-software yang berlisensi atau legal,” tandasnya.

Diakui, masih banyaknya sekolah yang belum menggunakan software berlisensi lantaran masalah harga yang mahal. Tapi sekarang setelah ada kerjasama SMK YPT dan Microsoft, hal tersebut tidak bisa lagi menjadi alasan.

Karena, lanjut Ikmal, melalui SMK YPT, PT Microsoft memberikan potongan harga hingga 90 persen bagi instansi, lembaga atau siapapun yang akan berlisensi. “Nah ini setelah ada kerja sama dan biaya yang diberikan sangat murah tersebut. Maka mulai sekarang seluruh sekolah wajib gunakan software yang berlisensi,” ungkapnya.

Berlisensi merupakan amanat dari Undang-undang (UU) No 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. “Kalau dalam dunia pendidikan sudah memberikan contoh bagus kepada anak didiknya dengan berlisensi. Maka lulusannya saat bekerja juga melakukan hal yang sama dengan tidak menggunakan software bajakan,” cetusnya.

Ditambahkan pula, pihaknya segera melayangkan surat edaran ke sekolah-sekolah, kaitannya dengan kewajiban menggunakan software berlisensi. Target awal semua SMA/MA/SMK, selanjutnya diturunkan ke tingkat dibawahnya SMP/MTs dan SD/MI.

“SMA/MA/SMK kami targetkan selesai tahun 2014. Tidak ada lagi alasan anggaran. Karena dana BOS dari pusat atau pun pendampingan yang diberikan pemkot sangat mencukupi untuk membiayai sekolah berlisensi. Karena SMK YPT akan memberikan diskon hingga 90 persen,” ujarnya.

Pemkot sendiri, sambung Ikmal, melalui Dishubkominfo sudah menekankan supaya semuanya menggunakan software berlisensi. Dan hingga tahun 2013 lalu sudah bermigrasi dari software ilegal ke yang berlisensi.

“Ini dilindungi UU Hak Cipta, maka pemkot harus memberi contoh yang baik kepada masyarakat. Kalau pemkotnya saja tidak memberi contoh yang baik, lalu masyarakatnya seperti apa,” kata Ikmal.

Terpisah, Kepala SMK YPT Kota Tegal, Solehin membenarkan bahwa biaya software berlisensi memang cukup mahal. Namun setelah kerjasama dengan PT Microsoft Indonesia ada diskon yang diberikan.

“Untuk biaya lisensi saat SMK YPT menerapkannya sebesar Rp 20 juta. Jadi nanti saat sekolah-sekolah lain yang akan berlisensi melalui sekolah kami, juga biayanya sekitar itu tidak ada tambahan. Ini sudah termasuk bimbingan dan lainnya,” beber Solehin. dde