banner 468x60

“Sekolah Kawasan Bisa Timbulkan Diskriminasi”

376 views
iklan

isa anshori11Penakita | SURABAYA – Keberadaan sekolah kawasan dikhawatirkan bakal jadi sekolah elit. Pasalnya, pembatasan nilai rerata ujian nasional (UN) minimal 8,5 atau nilai total 34,00 hanya bisa dicapai sekolah di pusat kota Surabaya.

Sedang siswa di pinggiran yang sebetulnya memiliki potensi tak kalah bagus sulit menembus sekolah kawasan lantaran nilai UN-nya tidak terlalu bagus. “Akibatnya mereka tak punya kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih bermutu di sekolah kawasan,” cetus Isa Anshori, Ketua Dewan Pendidikan Surabaya.

Karena itu, Isa berharap Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya meninjau ulang standar nilai minimal untuk bisa masuk sekolah kawasan. “Fakta yang saya temukan, di sekolah pinggiran hampir tidak ada siswa yang mencapai nilai tersebut,” tegasnya.

Isa mengingatkan agar akses pendidikan berkualitas bisa dimiliki semua lapisan masyarakat, termasuk anak-anak di daerah pinggiran yang kebanyakan berasal dari keluarga menengah ke bawah. “Pembatasan nilai rata-rata itu hanya menimbulkan diskriminasi,” cetus Isa Anshori.

Sebagaimana diberitakan, Dindik Surabaya kembali ‘menghidupkan’ sekolah eks RSBI dengan nama sekolah kawasan. Bagi pendaftar SMA disyaratkan memiliki nilai UN minimal 8,5 (total 34,00), dan tidak boleh ada nilai di bawah 7,50.

Untuk SMP, standar rerata nilai UN juga 8,5 (nilai total UN 25,50), dan tidak boleh ada nilai di bawah 7,50. Calon siswa nantinya juga harus mengikuti tes potensi akademik.  ari

author