• Home »
  • Aktualita »
  • Sekolah Kuliner di NCSA Cukup Bayar Rp 12 Juta, Manfaatkan pula Masa Promonya Sampai Tanggal 15 Agustus

Sekolah Kuliner di NCSA Cukup Bayar Rp 12 Juta, Manfaatkan pula Masa Promonya Sampai Tanggal 15 Agustus

Stephen Rantung, Managing Director NCSA (dua dari kiri) dan Henny Fransisca, Direktur Marketing NCSA (kanan) saat prosesi peresmian NCSA, Sabtu (11/8/2018).

Penakita | SURABAYA – Sekolah kepariwisataan mahal? Kalau sekolah itu memberlakukan standar pendidikan yang benar memang mahal. Karena faktanya sejumlah sekolah ada yang mengenakan bea masuk kisaran Rp 38-40 juta setahun.

Bahkan ada biaya pendidikan di sekolah swasta sampai Rp 150 juta. Fenomena inilah yang melatari hadirnya National Culinary Service Academy (NCSA).

Sebab, untuk masuk ke sekolah yang berlokasi di kawasan Villa Bukit Mas Surabaya ini hanya Rp 12 juta untuk jurusan Culinary dan Rp 10 juta untuk jurusan Service. “Bahkan selama promo bayarnya cukup Rp 10,8 juta (Culinary) dan Rp 9 juta (Service),” kata Henny Fransisca, Direktur Marketing NCSA, Sabtu (11/8/2018).

Ditemui di tengah persiapan peresmian NCSA, Henny menandaskan promo biaya pendidikan itu berlaku hingga 15 Agustus 2018. “Kami ingin menghapus kesan bahwa sekolah kepariwisataan itu mahal, dan hanya untuk kalangan tertentu. Kami ingin mereka yang berada di menengah pun bisa menikmati pendidikan kuliner ini,” tuturnya.

Meski memberlakukan biaya murah, wanita yang sempat gabung di sejumlah hotel berbintang ini menandaskan bahwa NCSA tetap mengutamakan kualitas. “Lulusan (NCSA) akan dapat dua sertifikat, satu dari sekolah, satu lagi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi,” beber Henny.

Selain bekerjasama dengan BNSP, NCSA juga menggandeng organisasi profesi lainnya yaitu Indonesia Chef Association, dan Indonesia Hotel General Manager Association. “Muridnya tanpa batasan usia, dan kerjanya nanti di hotel berbintang,” imbuhnya.

Sebelumnya, Stephen Rantung, Managing Director NCSA menyatakan, NCSA yang setingkat Diploma 1 ini didukung oleh chef-chef dari hotel berbintang. “Pengajarnya bukan chef yang nganggur, bukan chef yang cari kerja. Tetapi yang benar-benar masih aktif,” tandasnya.

Keberadaan chef yang masih aktif di dunia perhotelan tersebut, diperlukan agar bisa memberi masukan mengenai tren yang sedang terjadi di hotel berikut permasalahan yang sedang terjadi. “Dengan demikian murid-murid bisa langsung nyambung dengan industrinya,” ungkap Stephen.

Manfaat lainnya, kata Stephen, jika guru tahu ada murid pintar pasti punya kemungkinan besar untuk dijadikan staf. “Karena itu, kami nggak ambil banyak murid. Cukup 40 orang per-kelasnya, supaya guru tahu persis siapa saja yang dididik, guru tahu masing-masing kekurangan dan kelebihan muridnya,” urainya. dit