banner 468x60

Sekolah Non-BOS Dibolehkan Pungut Beaya dari Siswa

384 views
iklan

Kurikulum_2013Penakita | SURABAYA – Di Surabaya ada 44 sekolah yang ditunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai sekolah sasaran Kurikulum 2013. Selain itu, menurut keterangan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jatim, ada puluhan sekolah yang mengajukan diri untuk melaksanakan kurikulum secara mandiri.

Berbeda dengan sekolah sasaran, untuk jalur mandiri ini, pelaksanaan kurikulum baru dilaksanakan pada semester kedua tahun ajaran 2013/2014. “Tidak cukup waktunya kalau mau dilakukan awal tahun ajaran ini,” ujar Salamun, Kepala LPMP Jatim.

Ditambahkan, pencetakan buku paket kurikulum baru telah disesuaikan dengan jumlah sekolah yang ditunjuk oleh Kemendikbud. Sejumlah buku ini akan diberikan cuma-cuma kepada sekolah sasaran.

Sedangkan sekolah yang berencana melaksanakan secara mandiri, tidak akan mendapatkannya. Pihak sekolah bisa mengunduhnya di laman http://bse.kemdikbud.go.id/ dan dipersilakan untuk menggandakannya sendiri.

Untuk biaya penggandaan buku tersebut LPMP Jatim melarang pihak sekolah memungut beaya kepada siswanya. Terutama bagi sekolah yang telah dikucuri dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pusat.

Ditegaskan Salamun, aturan itu berlaku bagi sekolah negeri dan swasta yang mengajukan diri menerapkan kurikulum baru secara mandiri. Seluruh kepala sekolah yang mengajukan kurikulum secara mandiri dianjurkan untuk melakukan kesepakatan.

Hal ini untuk memutuskan apakah buku paket yang di-download tersebut akan dicetak atau cukup di foto kopi. “Masalahnya, sekolah kan sudah dapat BOS, untuk SD dapat bantuan Rp 540.000 per-siswa dan SMP dapat Rp 710.000,” cetusnya.

Salamun menyarankan agar pihak sekolah menyisihkan Rp 100.000 dari dana BOS untuk cetak buku. Dan para kepala sekolah diakui sudah sepakat melakukan hal tersebut. “Biasanya mereka memilih mencetak karena beaya foto kopi dan mencetak buku selisihnya tidak banyak,” imbuhnya.

Sedan bagi sekolah yang tidak menerima dana BOS, Salamun mempersilakan sekolah itu memungut beaya dari siswanya untuk mencetak atau memfoto kopi buku kurikulum baru. “Memang ada beberapa sekolah swasta yang menolak menerima BOS. Jika mereka mendaftarkan diri untuk melaksanakan kurikulum baru secara mandiri, kami pun mempersilakan mereka untuk menarik biaya kepada siswanya,” kata Salamun. ari

author