banner 468x60

Setelah Lima Kali Gagal, Novie Akhirnya Berangkat ke Jakarta Gara-Gara ‘Ketidakabadian’

iklan
Masaki Tani, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya memberikan hadiah pada para pemenang Lomba Pidato Bahasa Jepang. (foto: Lintang Suminar K)

penakita.com | SURABAYA – Lomba pidato bahasa Jepang yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya selalu menjadi magnet bagi para pembelajar bahasa Jepang. kompetisi yang rutin digelar setiap tahun ini selalu diikuti banyak peserta dari beragam latar belakang.

Dan di penyelenggaraan tingkat regional ke-40 yang kali ini digelar Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya di Graha Wiyata UNTAG (Universitas 17 Agustus), Sabtu (22/06/2019), lomba Pidato Bahasa Jepang itu diikuti 12 peserta.

Seluruh kontestan berusaha menjadi yang terbaik agar bisa mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional. Dan yang berhasil menjadi pemenang di tingkat nasional akan dapat hadiah ke Jepang.

Kesempatan langka ini pula yang membuat peserta terus berusaha meski sudah beberapa kali gagal. Novie Poerwanti yang maju sebagai satu-satunya peserta yang bukan berasal dari universitas mengaku dirinya sudah lima kali kalah dalam kompetisi ini di tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga : http://penakita.com/cara-berpidato-menarik-tetapi-masaki-tani-pesan-sebaiknya-peserta-pilih-tema-umum-begini-alasannya/

Tetapi dia tidak putus asa. Kali ini dia berusaha melakukan persiapan lebih baik lagi. “Setengah tahun sebelum kompetisi ini dimulai saya sudah mempersiapkan,” imbuhnya.

Selain memilih tema yang tepat, dia juga berlatih berbicara, intonasi, hingga timing. Dan kerja keras Novie pun terbayar ketika dewan juri mengumumkan dirinya sebagai Juara 1 dan mewakili Jawa Timur di tingkat nasional.  

Baca Juga : http://penakita.com/lolos-wakili-universitas-brawijaya-di-lomba-pidato-tingkat-jatim-adhe-mengaku-alami-kesulitan-fokus-pada-dua-hal-ini/

“Saya akan berusaha lebih keras lagi saat di Jakarta nanti,” tandasnya sambil tersenyum meskipun air matanya berlinang.

Dalam pidatonya, Novie memilih ‘Ketidakabadian’ sebagai tema pidatonya. Dalam pidatonya, ia sempat menjelaskan makna harfiah ‘Ketidakabadian’ dalam bahasa Jepang kemudian merefleksikannya dalam kehidupannya.

“Ternyata di dunia ini tidak ada yang abadi. Perasaan, nyawa, jiwa manusia, benda, semua akan punah,” begitu ungkap Novie kepada penakita.com usai kompetisi. sum

author