banner 468x60

Sibuk Kerja di Pabrik, Puluhan Siswa di Kabupaten Malang Batal Ikut UN

359 views
iklan
Ilustrasi

Ilustrasi

Penakita | MALANG – Sebanyak 77 siswa SMA/MA/SMK di Kabupaten Malang mengundurkan diri dari pelaksanaan ujian nasional (UN) 2013. Alasan puluhan murid ini bermacam-macam, ada yang karena bekerja di pabrik, sawah, dan sektor informal lain.

Ada pula lantaran kepindahan keluarganya keluar Kabupaten Malang. Atau ada yang karena dipaksa orangtuanya menikah.

Edi Suhartono, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Malang menyatakan, dalam dua hari ujian nasional ini, tercatat 10 siswa absen karena sakit. Sedang 77 siswa menyatakan mundur sebagai peserta UN. Seluruh siswa yang mengundurkan diri berasal dari 52 lembaga pendidikan SMA/MA/SMK baik itu negeri maupun swasta. Dari SMA dan MA ada 31 siswa absen UN, sisanya 46 orang siswa SMK.

Ditambahkan Edi, siswa yang absen saat pelaksanaan UN di hari pertama (Senin, 15/4) ada 87 orang dari 16.488 siswa peserta UN tingkat MA/SMK/SMA ini. Setelah dicek ulang, mereka juga tidak hadir lagi dalam UN pada hari kedua (Selasa, 16/4).

“Jumlah siswa yang absen di hari kedua UN masih sama dengan jumlah siswa yang absen di hari pertama. Berdasarkan rekapitulasi peserta UN pada tahun ini diikuti 16.488 siswa SMA/MA/SMK,” tuturnya.

Menurut Edi, pihaknya sudah berusaha mempertahankan keikutsertaan siswa dengan mengundang sang murid dan orangtua murid, hingga mengunjungi rumah keluarga murid bersangkutan. Bagi siswa yang absen karena sakit, boleh mengikuti ujian susulan di sekolah masing-masing pada 22-25 April 2013 mendatang.

Sedangkan murid yang mengundurkan diri, tidak bisa mengikuti ujian susulan karena sudah dicoret dari daftar peserta UN. “Siswa yang mengundurkan diri dan tidak mengikuti UN dibuktikan dengan surat pengunduran diri yang dibuat oleh masing-masing wali murid, yang juga disertai materai,” ujarnya.

“Secara keseluruhan, pelaksanaan UN berjalan lancar. Lembar jawaban ujian nasional dari 15 subrayon terkumpul tepat waktu dan sudah dikirim ke perguruan tinggi di Surabaya,” pungkas Edi. ari

author