banner 468x60

Soal Organ Intim, Orangtua Harus Ajarkan ABK Memahami Sebutan yang Tepat

iklan
Forkasi Chapter Surabaya menggelar seminar ‘Pencegahan Pelecehan Seksual pada Individu Special Needs (Sebagai Korban atau Pelaku)’ di Aula BJTI Port Surabaya.

penakita.com | SURABAYA – Forum Komunikasi Orang Tua Anak Spesial Indonesia (Forkasi) Chapter Surabaya terus aktif menggelar aksi agar masyarakat kian memahami anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

Terbaru, Forkasi Chapter Surabaya bikin seminar bertajuk ‘Pencegahan Pelecehan Seksual pada Individu Special Needs (Sebagai Korban atau Pelaku)’.

Kegiatan yang dihadiri 165 peserta dan berasal dari beragam kelompok masyarakat, seperti orangtua, guru, dan para pemerhati ABK ini digelar di Aula BJTI Port Surabaya, Sabtu (2/11/2019).

Riska Timothy, pemilik Rumah Terang Terapi yang hadir sebagai narasumber di seminar tersebut menyatakan bahwa pelecehan seksual pada ABK dapat dicegah dengan cara mengajarkan perkembangan seksual yang sehat sesuai dengan usia perkembangan anak.

“Karena orang tua yang mengajarkan secara konsisten tentang seksual yang sehat akan lebih siap melindungi diri anak-anak dari pelecehan,” ungkapnya.

Selain itu anak juga perlu paham batas sentuhan yang dianggap mengganggu. Seperti bila ada orang yang memegang area pantat serta pundak dan dada ke bawah hingga atas lutut.

Baca Juga : http://inisurabaya.com/2019/04/latih-motorik-halus-dan-sensorik-taktil-ini-yang-dilakukan-anak-anak-spesial-di-ulang-tahun-ke-1-forkasi/

Anak-anak berkebutuhan khusus juga perlu dilatih mandi sendiri, menggosok gigi, keramas, sampai membersihkan sisa buang air kecil dan buang air besar. Kemampuan mendasar ini penting untuk dilatih agar dia tidak tergantung pada orang lain yang mudah menyalahgunakan kesempatan.

Termasuk membiasakan ABK menyebut organ intimnya dengan sebutan yang tepat. Contohnya kalau menyebut alat kelamin bisa menggunakan kata-kata media seperti penis atau vagina.

“Jadi jangan bilang ‘titid’, ajarkan saja kata medisnya biar anak-anak juga paham,” tandas praktisi ABK ini.

Selain pendidikan seksual sejak dini, anak-anak juga harus dibiasakan memakai celana panjang dan baju yang tidak ketat. Tujuannya tentu agar tidak menarik perhatian orang lain yang kemudian menyalahgunakan kesempatan untuk tujuan tidak baik.

Sementara Rosita Simin, Ketua Forkasi Chapter Surabaya mengungkapkan, tujuan penyelenggaraan seminar tersebut adalah sebagai wadah edukasi bagi orang-orang terdekat yang bersangkutan langsung dengan individu special needs.

“Kami ingin memberikan pemahaman pada orang tua, guru, maupun pemerhati mengenai pendidikan seksual sejak dini pada individu special needs,” katanya. dit

author