banner 468x60

Stimulasi Berulang Pengaruhi Kecerdasan Bayi

474 views
iklan

Penakita | JAKARTA – Banyak yang percaya bahwa unsur genetik menjadi faktor penting dalam kecerdasan anak. Jika orangtua atau kakek-nenek-nya pandai, maka kecerdasan itu menurun ke anak-cucunya. Tapi, jangan lupa, rangsangan dan nutrisi juga berpengaruh pada perkembangan kecerdasan anak.

Menurut dokter spesialis anak, Dwi Putra Wododo, genetik memang memegang peranan penting dalam kecerdasan anak. Namun, seiring pertambahan usia, faktor nutrisi dan stimulasi juga memegang peranan penting. Kecerdasan bukan diukur melalui tes intelejensia, tapi juga kemampuan mengatasi problem dengan praktis dan taktis.

Pembentuk dan perkembangan otak melalui dua proses penting dalam dua tahun pertama kehidupan seorang anak, yakni pertumbuhan sel otak yang terjadi segera setelah konsepsi dan lengkap sebelum dua tahun. Selanjutnya, maturasi fungsi, yakni pembentukan mielinasi dan koneksi antara sel (sinaps).

“Berat otak saat bayi lahir 350 gram. Selama dua tahun, berat otak mencapai 1.200 gram. Sejak usia dua tahun hingga dewasa pada wanita dewasa hanya menambah 50 gram. Karena berat otak wanita dewasa mencapai 1.250 gram. Sementara pada pria dewasa 1.400 gram,” ujar Dwi Putra Wododo beberapa waktu lalu.

Periode otak berkembang sangat pesat terjadi pada tahun pertama seorang anak. Bayi memerlukan nutrisi optimal selama periode tersebut. Terjadi pula proses percepatan sinapsis dan mielinasi. Pada masa percepatan itu yang juga disebut periode emas untuk mengoptimalkan kemampuan intelektual anak.

Rangsangan dan nutrisi sebagai faktor penting untuk kelangsungan hidup sel otak dan proses sinapsis. Sel otak yang jarang distimulasi, jaringan sarafnya atau sinaps-nya menghilang. Itu akan memengaruhi kecerdasan anak. Pemberian stimulasi juga harus melalui proses pengulangan.

“Sel otak sangat butuh proses pengulangan agar jaringan sinaps-nya kuat dan bertahan lama. Proses belajar berdasarkan pengulangan sehingga dapat terbentuk memori jangka pendek dan panjang yang merupakan komponen intelektual,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, perkembangan otak diprogram secara genetik (rapi, teratur, dan bertahap sesuai umur kronologis). Masing-masing area di otak mempunyai kurva pertumbuhan sendiri-sendiri dan saling berhubungan. Maturasi otak berhubungan erat dengan perkembangan intelektual. Di dalam otak ada lebih dari 200 milyar sel otak. Satu sel saraf saat berusia di bawah dua tahun memiliki 2.500 sinaps. Sedangkan usia di atas dua tahun, satu sel saraf memiliki 15.000 sinaps. Semakin banyak sinaps yang saling berhubungan, anak akan semakin cerdas.

“Dalam perkembangan otak, fungsi penglihatan dan pendengaran pertama kali berkembang. Bayi baru lahir akan melihat dengan samar-samar tapi dia hafal suara orang-orang terdekatnya. Sekitar usia enam bulan, penglihatannya sudah jelas. Makanya banyak bayi saat usia enam bulan mulai menangis jika digendong orang yang bukan orang terdekatnya,” kata Dwi.

Selanjutnya kemampuan bicara yang dikendalikan dari otak kiri dan kanan. Kecerdasan yang mencakup konsentrasi (atensi), daya ingat (memori), dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving) berkembang pada otak bagian depan. “Otak bagian depan terakhir perkembangannya,” tutur Ketua Divisi Neurologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Dia menjelaskan, terdapat perbedaan perkembangan otak pada laki-laki dan perempuan. Maturasi pada otak perempuan lebih cepat. Pada usia 10,5 tahun, ukuran otak perempuan mencapai puncaknya. Berbicara pun lebih cepat daripada laki-laki. Sedangkan pada laki-laki, walaupun ukuran otak mencapai puncaknya pada usia 14,5 tahun, namun 8-10 persen otaknya lebih besar ketimbang otak perempuan dan sel otaknya lebih padat.

author