Kukuhkan Diri Sebagai Kampus Ramah Difable, Ini Langkah yang Dilakukan Unesa

Penakita | SURABAYA – Pemecahan rekor MURI untuk katagori menyanyikan lagu nasional menggunakan bahasa isyarat dengan peserta terbanyak.punya makna khusus bagi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Keberhasilan yang dicapai itu, makin menguatkan perguruan tinggi tersebut untuk memposisikan diri sebagai kampus ramah disabilitas.

“Kami akan makin tingkatkan diri sebagai kampus ramah disabilitas, baik dalam hal pelayanan maupun sarana dan prasarananya sehingga mudah dipergunakan oleh para penyandang disabilitas,” kata Prof Dr Nurhasan MKes, Rektor Unesa, Rabu (19/12/2018).

Selain itu, lanjut Prof Nurhasan, aksi ini juga menunjukkan ke masyarakat umum bahwa disabilitas wajib memperoleh pendidikan yang sama seperti orang lainnya tanpa adanya diskriminasi.

Bagi Prof Nurhasan, mahasiswa berkebutuhan khusus atau difable, adalah mahasiswa yang juga memiliki banyak potensi, memiliki kelebihan, dan bisa berprestasi sehingga kampus harus memberikan support maksimal.

Sementara Budiyanto, ketua Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) menambahkan untuk memecahkan rekor MURI ini, relawan disabilitas telah berlatih di berbagai kesempatan membawakan lagu nasional menggunakan bahasa isyarat..

“Mereka berasal dari berbagai jurusan. Mereka mempelajari bahasa isyarat karena peduli pada temen-temannya yang difabel,” tegasnya.

Menurut Budiyanto, Unesa sudah sangat terbuka apabila ada anak-anak berkebutuhan khusus yang ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi tersebut. “Setiap ada ksempatan untuk tampil di publik, para relawan ini menunjukkan bagaimana bahasa isyarat untuk lagu nasional. Makanya mahasiswa dan civitas akademik lainnya sudah mulai bisa mengikuti,” imbuhnya.

Budiyanto lalu memapar data, mahasiswa baru Unesa tahun 2018, ada 14 orang penyandang disabilitas yang mengambil beberapa program studi diantaranya di Fakultas Bahasa dan Seni serta di Fakultas Ilmu Pendidikan.

“Unesa mempunyai laboratorium inklusi untuk pengembangan pendidikan yang layak anak disabilitas,” ungkapnya.

Untuk memberi dukungan maksimal, Unesa bahkan menjalin kerjasama dengan universitas-universitas di Eropa untuk bisa mengkampanyekan pendidikan ramah disabilitas. dit

Rayakan Dies Natalis ke-54, Unesa Kerahkan 1964 Orang untuk Menyanyi Bahasa Isyarat

Penakita | SURABAYA – Menyanyi pakai bahasa isyarat? Ini memang baru pertama kalinya terjadi di Indonesia.

Tak heran bila aktivitas yang dilakukan 1964 orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen, karyawan dan komunitas disabilitas di halaman Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI.

Rekor yang dipecahkan adalah menyanyikan lagu nasional menggunakan bahasa isyarat dengan peserta terbanyak. “Kami memilih jumlah 1964 orang untuk memecahkan rekor MURI ini, karena memang 1964 itu adalah tahun kelahiran Unesa. Jadi angka ini punya makna sejarah bagi Unesa,” kata Prof Dr Nurhasan MKes, Rektor Unesa, Rabu (19/12/2018).

Prosesi menyanyi dengan bahasa isyarat itu digelar di tengah upacara peringatan Dies Natalis ke-54 Unesa. “Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada tim MURI dan mahasiswa yang ikut serta dalam menyukseskan kegiatan ini,” tutur rektor yang baru dilantik pada 14 Agustus 2018 ini.

Nurhasan yang memimpin langsung upacara Dies Natalis itu menambahkan, prestasi pemecahan rekor MURI ini bukan yang pertama kali bagi Unesa. “Pemecahan rekor MURI ini menjadi yang ketiga kalinya bagi Unesa, dan rekor ke-8.790 untuk keseluruhan rekor MURI,” katanya.

Di tempat yang sama, Budiyanto, Ketua Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) menambahkan, untuk memecahkan rekor MURI ini para relawan telah berlatih bahasa isyarat mulai Agustus lalu.

“Ini dilakukan para relawan sama sekali tidak ada tekanan dari pihak manapun. Namun sepenuhnya karena mereka peduli pada temen-temannya yang disable,” paparnya. dit