banner 468x60

Tak hanya Sarana Mengembangkan Kedekatan Emosional Orang Tua-Anak, Ini Manfaat Lain Bercerita

iklan
Kak Toby sedang bercerita sambil memainkan boneka di acara Women’s Week di Royal Plaza Surabaya,

Penakita.com | SURABAYA – Di era serba digital ini dongeng ternyata masih diminati anak-anak. Terbukti acara Women’s Week di Royal Plaza, Jumat (29/3/2019) yang menyajikan kegiatan story telling diminati banyak peserta.

Puluhan anak terlihat antusias menyimak cerita yang dituturkan Kak Toby. Sambil sesekali memeragakan gerakan boneka di tangan, Kak Toby mengurai cerita seru tentang seekor rusa yang hampir diterkam buaya karena tak mematuhi nasehat ibunya untuk tidur siang.  

Untung ada seekor sapi bijaksana yang mau menyelamatkan anak rusa yang nakal tadi. Sepanjang cerita disampaikan, anak-anak duduk menyimak penuh perhatian.

Tak jarang mereka tertawa, berteriak dan panik melihat aksi si pemeran utama. Sementara di sisi lainnya, para orang terlihat senang menyaksikan anak-anak mereka semangat menyimak dongeng Kak Toby.

Menurut Inge Ariani Safitri, Ketua Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya, dongeng merupakan media hiburan anak-anak yang banyak manfaatnya. Selain melatih ekspresi dan kosakata, dongeng juga melatih anak untuk bermain imajinasi.

Namun lebih dari itu, dongeng bisa menjadi sarana untuk mengembangkan kedekatan emosional orang tua dan anak. “Poin terakhir inilah yang terus kami tekankan bersama rekan komunitas kepada para orang tua,” katanya.

Selain membentuk bonding untuk anak dan orang tua, Inge meyakini bahwa dongeng juga menjadi alternatif pengalih gadget terbaik untuk anak-anak.

Ditekankan Inge, pertunjukan dongeng sejatinya juga memberikan ilmu dan pesan moral kepada anak-anak. Namun yang lebih penting, bagaimana orang tua mem-follow up cerita itu di rumah dan menjadikan kebiasaan.

“Kami ingin menyadarkan orang tua bahwa dongeng adalah sarana komunikasi efektif orang tua dan anak,” tandasnya.

Kesadaran seperti ini perlu dibangun, lanjut Inge, karena nilai-nilai dan pengetahuan dasar datang dari keluarga. Misalnya memberikan pengajaran sopan santun, pembentukan karakter, dan edukasi tentang seks untuk anak-anak tidak bisa diberikan secara kaku dan sekali saja. Tetapi perlu pemahaman berulang-ulang.

Inge mengingatkan, bahwa anak tidak akan ingat diajarkan hanya satu kali. Dengan contoh dari luar, tugas orang tua di rumah untuk melanjutkan. “Saat ini kan ramai kasus-kasus bullying, pelecehan seksual, rasanya hal-hal itu bisa dihindari kalau anak dibekali sejak dini dari rumah,” ungkapnya. 

Apalagi, mendongeng tidak membutuhkan keahlian khusus. Hanya butuh suara, ekspresi, dan cerita sederhana dan sehari-hari. Apalagi saat ini banyak media, sehingga makin memudahkan orang tua untuk menarik perhatian anak-anak. dit

author