banner 468x60

Tim Olimpiade Fisika Indonesia Gagal Raih Emas

521 views
iklan

TOFIPenakita | JAKARTA – Jumlah soal yang sangat banyak jadi penyebab kegagalan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) meraih medali emas di pentas International Physics Olympiad (IPhO) ke-44 pada 7–15 Juli 2013 di Kopenhagen, Denmark. Empat anggota tim yang terdiri dari Joshua Christian Nathanael (SMAK IPEKA Sunter Jakarta), Mikael Harseno Subianto (SMAK 1 BPK Penabur Jakarta), Paulus Anthony Halim (SMAN 3 Surakarta), dan I Made Gita Narendra Kumara (SMA Bali Mandara) akhirnya kembali ke Indonesia membawa medali perunggu.

Sedangkan satu anggota tim lain, Andreas Bethavan Situmorang (SMA Pribadi Depok) belum berpeluang untuk meraih medali. “Dibanding tahun lalu, soal kali ini banyak sekali dan terdiri dari sub-sub soal. Sehingga kalau di total-total sekitar 60 soal. Dan itu harus diselesaikan hanya dalam waktu lima jam. Jadi, sangat sulit bagi anak-anak kita dalam menuntaskannya,” ungkap Syamsu Rosid PhD, tim pembina TOFI.

Meski begitu, menurut Syamsu, TOFI sudah menampilkan yang terbaik. Nilai yang diraih termasuk nilai perunggu teratas, seperti nilai perunggu yang di raih oleh I Made Gita Narendra mendekati nilai perak. “Ini pun kami lakukan dari hasil perdebatan yang sangat alot pada saat moderasi dengan para juri,” ungkapnya.

Rosid menambahkan, intropeksi bagi para pembina adalah anak-anak harus ditempa lagi daya juangnya dalam menyelesaikan soal yang cukup berat dengan keterbatasan waktu yang ditentukan seperti kemarin. “Nanti saya akan mensimulasikan ini pada pelatnas tahap akhir untuk persiapan IPhO 2014 yang rencananya berlangsung di Kazakhstan, “ tambah Rosid.

“Selain jumlah soal yang banyak, kami juga harus memasukkan nilai-nilai numerik setelah mendapatkan rumusnya. Selain berfikir logika, kami harus cepat mengerjakannya dalam waktu 5 jam, jadi sangat menguras tenaga,” cerita I Made Gita Narendra.

“Saya malah sempat mengulang-ngulang membaca soal, dan berkali-kali ingin meyakinkan jawaban, tetapi terbuang banyak waktu dengan cara ini,” imbuh Joshua sebagaimana dikutip dari kemdikbud.go.id.

Atas hasil ini, Mikael mengaku kurang puas. “Tekad saya dari awal memang pengennya emas. Masalahnya soal tahun ini memang sangat jauh berbeda dengan apa yang kami prediksi,” ucapnya.

Ditambahkan, selama pelatnas mereka belum pernah menghadapi soal sebanyak yang dihadapi saat berlaga di International Physics Olympiad (IPhO) ke-44 ini. “Dalam mindset kami tidak berfikir sejauh itu. Jadi saya sangat menyesal,” cetusnya.

Mikael menegaskan tekadnya untuk tampil lebih baik bila punya kesempatan ikut lagi. “Saya harus memperbaiki kekurangan saya dengan lebih mempertajam strategi dalam menjawab soal, ketimbang belajar banyak materi, saya rasa punya strategi jitu dalam menjinakkan soal jauh lebih baik,” pungkasnya. dde

author