banner 468x60

Usai UN, Siswa Ini Menghembuskan Nafas Terakhirnya

421 views
iklan

UN SMP 3 meninggal_0107 (2)Penakita | SURABAYA – Kabar duka menyelimuti pelaksanaan ujian nasional (UN) SMP/ MTs di Surabaya. Seorang siswa asal SMPN 3 Surabaya, bernama Ahmad Dahlan menghembuskan nafas terakhirnya usai mengikuti UN hari ketiga kemarin, Rabu (24/4/203).

Kepala SMPN 3 Surabaya, Dr Hj Retno Indah M Pd mengatakan, sejak kemarin Ahmad memang terlihat sakit. Bahkan ia sempat muntah-muntah sebelum pelaksanaan ujian dimulai. Usai istirahat di UKS, Ahmad pun segera bersiap mengikuti UN di kelasnya.

“Dia istirahat di UKS. Guru-guru sempat memberinya teh hangat dan roti, agar kondisinya segera membaik. Kami pikir dia masuk angin biasa. Beberapa menit kemudian dia cepat-cepat masuk kelas untuk persiapan UN,” tutur Retno kepada PENAKITA.com, Kamis (25/4/2013).

Retno melanjutkan, usai UN kondisi siswanya tersebut semakin membaik. Ahmad pulang dengan mengendarai sepeda ke rumahnya yang berlokasi di Jalan Jepara gang 6 nomor 4 Surabaya.

“Kata ibunya, Ahmad ini masih sempat salat Ashar di masjid. Dia ini memang salah satu remaja masjid. Nah, saat Magrib Ahmad mengeluh badannya lemas, ditawari ibunya makan, dia tidak mau. Setelah itu kakaknya membawa Ahmad ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, sesampainya di sana, kata dokter si Ahmad ini sudah tidak bernyawa lagi,” beber Retno dengan haru.

Nahasnya, dokter mengatakan bahwa Ahmad terkena demam berdarah. Kondisi Ahmad memburuk karena penanganan yang sangat terlambat. “Orang tuanya memang nggak tahu kalau ternyata Ahmad itu sakit DB. Mereka ya baru tahu setelah dokter ini memberi tahu kalau Ahmad kena DB. Saya sendiri baru diberi kabar pada pukul 22.30 WIB semalam,” tandas Retno.

Jenazah Ahmad Dahlan telah disemayamkam di pemakaman daerah setempat sekitar pukul 09.00 WIB pagi tadi. Keluarga, teman, dan guru-guru sangat kehilangan sosoknya. “Ahmad ini memang dikenal sebagai siswa yang rajin. Jarang sekali dia bolos sekolah. Dia memang tipe anak yang tidak pernah ingin menyusahkan orang lain, terutama orang tuanya,” kenang Retno. ika

author