banner 468x60

IQ Bukan Lagi Patokan Utama Ukur Kecerdasan Manusia

401 views
iklan

Penakita | LONDON – Kita ternyata tidak bisa memberikan nilai dengan penilaian seragam untuk semua orang. Karena, sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 100.000 peserta menunjukkan, mungkin ada tiga komponen yang berbeda dari kecerdasan.

Pemahaman peneliti tentang kompleksitas otak manusia telah berkembang. Demikian pula tentang gagasan apa arti IQ sebenarnya, dan bagaimana hal ini dapat tertangkap akurat.

“Ada beberapa jenis kecerdasan. Dan inilah saatnya beralih menggunakan set yang lebih komprehensif dalam tes mengukur skor terpisah setiap jenis kecerdasan,” papar peneliti Adam Hampshire PhD, psikolog di Brain and Mind Institute Natural Sciences Centre di London, Ontario, Kanada.

Gunakan Banyak Tes IQ
Dalam studi tersebut, semua peserta diajak menjalani sekitar 12 tes online untuk mengukur memori, penalaran, perhatian, dan perencanaan sebagaimana dibutuhkan untuk mendapat informasi mengenai latar belakang pengambil tes dan gaya hidup. Seluruh tes memakan waktu sekitar 30 menit untuk diselesaikan.

Menurut hasil temuan, setidaknya ada tiga komponen yang mempengaruhi kinerja keseluruhan tes. Ini termasuk memori jangka pendek, penalaran, dan daya ingat verbal.

Faktor gaya hidup kali ini turut diperhitungkan. Misal, gamer (pemain game komputer) memiliki skor lebih tinggi pada tes penalaran dan memori jangka pendek. Perokok memiliki nilai buruk pada tes memori jangka pendek dan kosa kata. Sedangkan tes pada penderita kecemasan juga tidak memiliki nilai baik pada tes memori jangka pendek.

Studi ini juga menunjukkan, setiap jenis kecerdasan mungkin memiliki dasar di lokasi berbeda pada otak. Peneliti menggunakan scan otak MRI fungsional untuk memetakan daerah-daerah tersebut. “Secara potensial, kami dapat mengukur set komprehensif kecerdasan, masing-masing mencerminkan kapasitas pada bagian yang berbeda dari otak,” ungkap Hampshire.

IQ Agak Menyesatkan
Jadi, haruskah tes IQ dihentikan atau didiskreditkan? Jangan buru-buru, “beberapa penelitian yang sangat berharga telah dilakukan menggunakan tes IQ klasik. Namun, IQ adalah penyederhanaan besar dari spektrum kemampuan kognitif manusia,” jelas Hampshire.

IQ mungkin agak menyesatkan, namun berdasarkan hasil penelitian nampaknya perbedaan IQ akan bervariasi dalam skala maupun arah. Tergantung jenis intelijen yang diuji atau serangkaian tes yang berat. “Saya sarankan jika ini akan lebih baik, akurat, dan informatif untuk mengukur beberapa jenis kecerdasan, ” tambahnya.

Hampshire berencana melihat apakah ada jenis kecerdasan lain yang tidak tertangkap dalam penelitian ini. Hampshire juga mengatakan, temuan-temuannya tidak semua mengejutkan. Tetapi jumlah orang yang mengambil bagian dalam studi ini melebihi harapan. Itu adalah respon yang sangat kuat dari para anggota masyarakat umum, yang memberikan setengah jam atau lebih dari waktu mereka untuk mendukung penelitian ini.

John Gabrieli PhD, profesor ilmu kognitif dan otak di MIT Boston, mengkaji studi ini dan mengatakan, “Ini merupakan studi yang benar-benar menarik apalagi sejumlah besar orang yang mengambil tes dengan analisis data yang sangat hati-hati. Ini membuat membuka wacana akan gagasan IQ hanya terlokalisir di salah satu bagian otak. Kita bayangkan adanya tes kecerdasan THE, dan Anda dapat mengukurnya dalam banyak cara. Salah satu ukuran dapat memperlihatkan seseorang terlihat super-cerdas, tetapi jika mereka mengambil tes lain, mereka akan nampak rata-rata. Ada beberapa jenis kecerdasan yang dapat menghubungkan berbagai tugas dan bagian yang berbeda dari otak.”

author