banner 468x60

“Nggak Jamannya Lagi Dosen Uring-Uringan!”

395 views
iklan

rektor unairPenakita | SURABAYA – Seorang dosen dituntut secara professional memiliki hardskill dan softskill. Karena itu, tugas seorang dosen tidak ringan, tidak sekadar secara fisik mengajarkan ilmu atau mata kuliah, tetapi juga harus mampu menanamkan moral yang baik dan mengantar mahasiswanya menuju masa depan yang lebih baik.

”Kalau masih ada dosen yang uring-uringan mengeluhkan mahasiswanya karena sulit diatur, sering terlambat, saya kira itu tidak perlu terjadi lagi,” kata Rektor Universitas Airlangga (Unair).

Apalagi Unair sejak lama sudah menganut konsep pembelajaran Student Center Learning (SCL) dan bukan lagi Teacher Center Learning (TCL). Dengan SCL, dosen yang harus bisa memenuhi dan memfasilitasi mahasiswanya untuk belajar yang baik agar meraih prestasi.

Fasich menegaskan, sekarang sudah tidak lagi jamannya TLC, yang selalu berorientasi pada guru atau dosen. “Sekarang tidak lagi jamannya segala sesuatu apa katanya guru/dosen dan mahasiswa harus bisa memenuhi,” tandasnya.

Seorang dosen yang sudah bersertifikasi berarti sudah dianggap professional. Indikasi professional itu hendaknya memiliki tiga hal yaitu moral, kultural, dan pedagogis. Pada sisi moral, seorang dosen bertugas mengantarkan mahasiswa menuju masa depannya, sehingga dosen harus selalu mengedepankan nilai-nilai kebaikan.

Sedangkan implikasi kultural, diakui Fasich, sekarang ini prestasi mahasiswa itu sudah luar biasa. Tetapi untuk menjalani persaingan atau kompetisi kehidupan yang luar biasa ini dibutuhkan kultur yang melebihi dari yang dibutuhkan.

Ditambahkan pula, saat ini kultur kampus harus berubah. Kampus harus bisa menjadikan komunitas untuk membangun komunikasi dan inovasi dengan fasilitas yang memadai, pihak dosen pun sudah harus menyesuaikan kurikulumnya.

”La wong kampus kok sawat-sawatan, yo nek sawat-sawatan ilmu, apik. La iki sawat-sawatan watu, bahkan senjata tajam (di kampus kok lempar-lemparan, ya kalau lempar-melempar ilmu, baik. La ini lempar-melempar batu, bahkan senjata tajam). Ada apa ini? Unair siap untuk berbeda,” ungkap Fasich.

Sedangkan indikasi pedagogis dijelaskan bahwa proses belajar mengajar (PBM) tidak boleh hanya dikendalikan oleh satu pihak, monolog, atau satu arah bahwa dosen adalah satu-satunya yang benar. Dosen hendaknya bisa memimpin kelas untuk menggerakkan dinamika belajar yang dinamis, semua tergerak, semua terpanggil untuk mengembangkan keilmuannya.ika

author