banner 468x60

Pelaku Industri Diharap Kembangkan Akademi Komunitas

441 views
iklan

Penakita | JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berharap para pelaku industri mengembangkan akademi komunitas guna memperbaiki kualitas tenaga kerja. “Kami berharap agar lembaga pendidikan bukan hanya berbasis pemerintah, melainkan juga dikembangkan oleh pelaku industri,” ujar Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Djoko Santoso beberapa waktu lalu.

Menurut dia, pendirian akademi komunitas merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan akses masyarakat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu, pendirian akademi komunitas merupakan salah satu strategi untuk menguatkan pendidikan vokasi sebagai salah satu amanat Undang-Undang Pendidikan Tinggi Nomor 12 Tahun 2012.

Menurut dia, lulusan sekolah dasar (SD) masih mendominasi jumlah pekerja di dunia industri Indonesia saat ini. “Industri kita saat ini ditopang tenaga kerja lebih dari 50 persen lulusan SD, sementara lulusan perguruan tinggi baru mencapai 7 persen saja,” begitu katanya.

Menurut Djoko, sudah saatnya perusahaan meningkatkan kualitas akademi para tenaga kerjanya melalui pengembangan sektor pendidikan berbasis akademi komunitas. “Hal itu perlu dilakukan guna mengimbangi prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini kian maju dengan kualitas pendidikan pekerjanya,” imbuh Djoko.

Menurut dia, pemerintah telah menargetkan angka partisipasi perguruan tinggi di dunia industri dalam kurun waktu 2010-2014 sebanyak 25 persen dari tahun sebelumnya hanya 19 persen. “Namun, kenyataannya hingga kini mulai meningkat 27,4 persen dilihat dari perkembangan partisipasi masyarakat. Maka, target pada tahun 2014 berubah menjadi 30 persen dari jumlah peserta didik usia 19-23 tahun yang berada di perguruan tinggi,” tuturnya.

Ditambahkan pula, pekerja yang memiliki pendidikan rendah ini mendominasi jumlah pekerja pabrik, pertambangan, perkebunan, dan perikanan. “Di bidang kerja tersebut masih ada kesenjangan pendidikan pekerja,” ungkap Djoko.

Guna mengatasi persoalan tersebut, pemerintah harus mengambil alih keduanya dengan memberikan peluang bagi akademi komunitas berbasis industri. “Jadi, akademi komunitas ini menghubungkan pusat pertumbuhan industri dengan masyarakat dengan cara mendorong adanya kompetensi tenaga kerja,” tegasnya.

Djoko mengaku bahwa pihaknya telah mempersiapkan peraturan terkait perangkat akademi komunitas berbasis industri agar dapat berdiri sendiri. “Akademi komunitas yang sudah berdiri masih diparalel seperti akademi PT Multistrada di bawah naungan politeknik Bandung atau di luar domisili. Dari 35 akademi berbasis pemerintah, baru satu akademi berbasis industri seperti AK-Multistrada,” ujarnya.

author