banner 468x60

Siswa SBK Prioritas Kerja daripada Kuliah

428 views
iklan

braille (1)Penakita | SURABAYA – Kepala SMALB Karya Mulia, Slamet Riyanto mengatakan, Materi pelajaran soal UN yang diujikan kepada para Siswa Berkebutuhan Khusus (SBK) ini berbeda dengan yang diberikan kepada siswa normal di sekolah reguler. Tingkat kesulitan materi soalnya lebih rendah dibandingkan materi khusus siswa normal.

“Salah satunya berkenaan dengan kosakata. Materi-materi yang diberikan, kosakatanya tidak terlalu sulit. Sebab, perbendaharaan kata mereka juga minim sekali. Bergantung tingkat ketunaan atau ketulian mereka. Mereka yang tuna rungu ini lebih mengandalkan kemampuan mata, dan oral mereka,” ungkap Slamet kepada PENAKITA.com, Selasa (16/4/2013).

Slamet memaparkan, jumlah siswanya yang tahun ini mengikuti UN sebanyak 15 orang siswa. Kelimabelas siswa tersebut memiliki jenis ketunaan golongan B, yaitu tuna rungu.  Selain itu, terdapat tiga siswa asal SMALB Tunas Mulya, SMALB Siswa Budi, dan SMALB Optimal, masing-masing satu siswa.

“Ada lima paket soal dalam pelaksanaan UN ini. Setiap ruang kelas dijaga oleh dua pengawas,” ucap Slamet.

Lebih jauh pria paruh baya ini melanjutkan, pihaknya optimis belasan siswanya ini dapat lulus 100 persen pada UN tahun ini.

Memang tidak seperti siswa normal kebanyakan, usai lulus mereka lantas melanjutkan pendidikan di jenjang kuliah. Kebanyakan SBK ini lebih memprioritaskan bekerja, daripada melanjutkan kuliah. Dalam hal ini, pihak sekolah membantu para siswa untuk mencarikan pekerjaan yang sesuai.

“Mungkin yang melanjutkan kuliah hanya 1-2 orang, atau 1 persen saja. Seorang siswa kami tahun lalu ada yang diterima di Stikom. Selebihnya kami arahkan ke dunia kerja. Banyak siswa kami yang bekerja di hotel-hotel ternama Surabaya, salon, dan Maspion,” tandas Slamet.

Sementara itu, Kabid TK/ SD/ PK Dindik Jawa Timur, Nuryanto menjelaskan, total jumlah SMALB penyelenggara UN di Jawa Timur sebanyak 47 lembaga, dan sembilan penggabung. Dengan rincian, siswa dengan ketunaan A sebanyak enam siswa, B sebanyak 163 lembaga, dan ketunaan C sebanyak satu orang siswa.

“Kalau jumlah penyelenggaran SMA inklusi, ada tiga lembaga, yakni SMAN 10 Surabaya, SMAN 9 Malang, dan SMKN 2 Malang. Ketunaan A ada satu orang, B empat orang, dan C ada satu orang,” tandas Nuryanto. ika

author