banner 468x60

Terima Tawaran Penerbit Boleh, Asal Buku Pokok dari Kemendikbud Jadi Acuan Utama

iklan

kurikulum2013Penakita | SURABAYA – Tim Penyusun Buku Kurikulum 2013 mengingatkan pada sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013, khususnya jalur mandiri buku ajar bisa diperoleh dengan mudah hanya dengan mengunduh di situs rumah belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), www.belajar.kemdikbud.go.id. Karena itu pula, pihak sekolah tidak perlu terusik dengan para penerbit yang mencoba menawarkan beragam buku pegangan kurikulum baru tersebut.

Menurut Munif Chatib, anggota Tim Penyusun Buku Kurikulum 2013, buku-buku Kurikulum 2013 dari Kemendikbud sudah disusun berdasarkan tema. Dan satu tema buku mengusung sub tema-sub tema yang mengakomodir semua mata pelajaran SD, kecuali agama.

Sedang buku-buku yang ada di toko, pembahasannya cenderung melenceng dari satu tema. “Saya sudah mengumpulkan buku-buku itu, ternyata isinya tidak sama dengan buku yang kami buat,” cetus Munif, Kamis (17/7/2013).

Meski demikian, Konsultan Pendidikan dan Manajemen Konsultan Jaringan Sekolah Lazuardi GIS ini tidak mempermasalahkan bila ada sekolah menggunakan buku dari penerbit di luar Kemendikbud tersebut. “Asalkan pihak sekolah tetap memakai buku yang dibuat Kemendikbud,” tandasnya.

Ditambahkan pula, buku untuk semua sekolah dibagi dua, yaitu buku ajar dan referensi. Buku Kemendikbud masuk buku ajar yang bentuknya habis pakai. Sementara buku dari penerbit lain hanya penunjang atau pengayaan.

Lebih jauh Munif memaparkan, Kurikulum 2013 sifatnya meneruskan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Namun, jika KTSP terpisah (fragmented), Kurikulum 2013 terpadu dengan tema-tema yang mengakomodasi berbagai mata pelajaran. Tema-tema inilah yang mengarahkan agar pembelajaran tidak terputus.

Kurikulum 2013 juga fokus pada pengetahuan, sifat dan perilaku siswa. Hal ini dimungkinkan lantaran model kurikulum ini terpadu sehingga sangat detail.

Munif yang juga CEO Next Worldview ini menepis tudingan kurikulum baru ini menghambat kreativitas guru. Pasalnya, guru masih diberi kesempatan membuat rancangan pokok pembelajaran (RPP). “Kurikulum 2013 ini dari sisi konten sangat ringan dan sesuai kebutuhan anak SD,” imbuhnya.

Ringannya konten dapat dilihat dari sisi mata pelajaran dan standar isinya. “Kalau kurikulum sebelumnya mata pelajaran dan standar isinya sangat padat, bahkan paling berat se-dunia. Seperti anak kelas 4 SD sudah disuruh mengetahui keuntungan dan kerugian otonomi daerah,” cetusnya. ari

author